15
Jul
09

Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Wijaya Putra

Latar Belakang

Para pendidik sepakat bahwa implementasi pendidikan budi pekerti di sekolah dapat membangun etika kemampuan bersosialisasi, dan meningkatkan kemampuan akademik siswa. Pendidikan budi pekerti meliputi emosi, intelektual dan kualitas moral seseorang atau sekelompok orang dalam berperilaku. Pendidikan budi pekerti berhubungan dengan kejujuran, keadilan dan sportifitas, dapat dipercaya, tanggungjawab, respek, sampai dengan memahami perbedaan antar individu dan kelompok. Pengembangan karakter melalui pendidikan budi pekerti memiliki esensi pengembangan nilai-nilai moral, penyelesaian masalah (problem solving) dan ketrampilan interpersonal, etika dalam bekerja, empati, serta refleksi diri. Bagi sekolah yang menjalankan program pendidikan budi pekerti, harus menunjukkan bukti dalam membangun lingkungan social yang positif, memiliki karakter kepemimpinan, kolegialitas, serta memiliki keterikatan yang utuh dengan keluarga dan lingkungan sekitar peserta didik. Terakhir, pendidikan budi pekerti diharapkan dapat memupuk rasa cinta anak didik kepada Negara dan dapat bertindak secara demokratis.

Apa yang dimaksud dengan pendidikan budi pekerti?
Pendidikan budi pekerti adalah gerakan untuk menciptakan sekolah yang mampu membentuk etika, tanggungjawab, dan kepedulian peserta didik dengan cara pemberian contoh dan pengajaran sikap yang dapat diterima secara universal. Pendidikan budi pekerti bukanlah suatu pekerjaan yang langsung jadi. Pendidikan budi pekerti merupakan proses berkelanjutan bagi anak didik oleh seluruh komponen mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat.

Mengapa kita membutuhkan pendidikan budi pekerti
Pendidikan memiliki dua tujuan: menjadikan anak didik memiliki pengetahuan dan menjadi baik. Untuk dapat memenuhi kedua tujuan tersebut, selain diberikan pendidikan akademik juga dibutuhkan pendidikan budi pekerti sebagai landasan pengembangan diri dan landasan dalam berhubungan dengan orang lain sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupan yang dapat diterima masyarakat.

Siapa yang mengajarkan pendidikan budi pekerti di sekolah?
Setiap orang dewasa yang ada di sekolah adalah pengajar pendidikan budi pekerti bagi siswa. Semua orang dewasa di sekolah menjadi model pendidikan budi pekerti bagi siswa. Secara terus menerus, siswa akan mengamati semua orang dewasa di sekolah – guru, pengelola, staf, pengelola kantin, sampai dengan bagian kebersihan – yang dilihat sebagai contoh model mana yang baik dan mana yang buruk.
Setiap guru, baik dalam kegiatan akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler, bertugas untuk mengembangkan budi pekerti siswa dengan cara menunjukkan nilai-nilai maupun aktivitas berbudi pekerti bagi siswa selama aktivitas tersebut berjalan.

Prinsip-prinsip Pendidikan Budi Pekerti
Demi tercapainya tujuan pendidikan budi pekerti, langkah awal bagi seluruh komponen pendidikan adalah memahami prinsip-prinsip pendidikan budi pekerti yaitu:
1. Menggunakan nilai utama etika sebagai dasar pendidikan budi Pekerti yang baik.
Sekolah menetapkan nilai-nilai utama etika yang dijalankan oleh seluruh komponen seperti kepedulian, kejujuran, tanggungjawab, rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain yang dapat mendukung kinerja individu seperti ketekunan dan nilai etika yang kuat. Sekolah menetapkan standar nilai-nilai tersebut dan mendevinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan sekolah serta memastikan bahwa seluruh komponen sekolah bertanggungjawab untuk menerapkan nilai-nilai dasar tersebut.
2. Budi pekerti harus didefinisikan secara komprihensif pada cara berfikir, perasaan dan perilaku.
a. Nampak seperti apa?
b. Terdengar seperti apa?
c. Terasa seperti apa?
Pendidikan budi pekerti berisi tentang pemahaman, perhatian terhadap dan bertindak atas dasar nilai-nilai etika yang ditetapkan. Pendekatan holistic pada pendidikan budi pekerti meliputi pengembangan kognitif, emosional dan perilaku dalam seluruh aspek kehidupan. Siswa berkembang untuk memahami nilai-nilai etika yang ditetapkan dengan cara mempelajari & mendiskusikan-nya, mengamati contoh-contoh perilaku, dan belajar menyelesaikan masalah dengan menggunakan nilai-nilai etika tersebut.
3. Pendidikan budi pekerti yang efektif sebaiknya merupakan pendekatan yang terencana, proaktif, dan menyeluruh yang mengarah pada nilai-nilai dasar pada setiap tingkatan dari kehidupan sekolah.
Sekolah yang menjalankan pendidikan budi pekerti harus melihat diri sendiri melalui lensa moral yang ditetapkan. Hal ini dibutuhkan karena apapun yang terjadi di sekolah merupakan contoh nyata dalam proses pendidikan budi pekerti siswa. Seluruh aspek di sekolah dapat menjadi peluang pendidikan budi pekerti siswa( seperti., prosedur seremoni atau upacara sekolah, hubungan guru dengan siswa, hubungan guru dengan guiru, manajemen lingkungan sekolah, kebijakan disiplin) yang kadang disebut sebagai hidden curriculum; academic curriculum (seperti., subyek pembelajaran); program extracurricular (seperti., olah raga, pramuka).
4. Sekolah harus menjadi sebuah komunitas yang peduli.
Sekolah sebagai sebuah mikrokosmos kehidupan bermasyarakat, diarahkan untuk membantu setiap anggotanya untuk peduli terhadap sesama. Kepedulian ini termasuk antar siswa, siswa dengan guru, guru dengan guru dan guru dengan orang tua siswa.
5. Untuk membangun budi pekerti, siswa membutuhkan kesempatan dalam melakukan tindakan moral.
Sepertihalnya domain intelektual, siswa di-konstruksi dalam mempelajari domain etika. Untuk itu diperlukan adanya kesempatan bagi siswa dalam mempelajari, memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai yang dituju dalam sebuah kegiatan nyata (seperti; bagaimana membuat consensus bersama dalam sebuah diskusi, bagaimana tanggungjawab siswa dalam menjalankan tugas yang ditetapkan)
6. Pendidikan budi pekerti yang efektif seharusnya bermakna dan kurikulum dapat membantu siswa dalam kesuksesannya.
Kurikulum: apa yang sudah ada dan apa yang harus ditambahkan?
Pada bagian ini, dalam proses belajar mengajar, pendidik diharapkan melihat interseksi antara konten akademik yang ingin diajarkan dengan sikap yang hendak dibangun bagi siswa.
7. Pendidikan budi Pekerti harus dapat mendorong siswa untuk mengembangkan motivasi dalam diri siswa.
Siswa merasa perlu untuk tetap berbuat baik bagi diri dan lingkungan sekitar.
8. Seluruh staf harus menjadi komunitas pembelajaran dan komunitas moral, sama-sama bertanggung jawab dalam pendidikan budi pekerti, dan menjalankan nilai-nilai dasar yang sama untuk dapat memandu pendidikan para siswa.
9. Pendidikan budi pekerti membutuhkan pembagian dukungan dan tanggungjawab.
Diperlukan adanya komite atau tim budi pekerti yang terdiri dari unsur pimpinan, guru, karyawan yang bertanggungjawab dalam merancang, mengiplementasi-kan dan mendukung pelaksanaan pendidikan budi pekerti di sekolah.
10. Sekolah harus melibatkan orang tua dan anggota komunitas sebagai rekanan utama pada upaya pengembangan budi pekerti.
11. Evaluasi pendidikan budi pekerti harus dapat mengukur Budi pekerti sekolah, staf, dan seberapa baik siswa mengimplementasikan budi pekerti yang dibangun.

Pilar Pendidikan Budi Pekerti
Sesuai dengan prinsip pertama, perlu adanya nilai-nilai (pilar) dalam pendidikan budi pekerti yang menjadi dasar pemahaman dan pengembangan serta dasar tindakan seluruh komponen sekolah yaitu:
1. Dapat dipercaya
2. Bertanggung jawab
3. Menghormati
4. Sportif, adil
5. Perhatian, peduli
6. Cinta tanah air (menjadi warga yang baik)

Tujuan Pendidikan Budi Pekerti:
Keseimbangan diri siswa melalui nilai-nilai moral, mampu menjalin hubungan antar individu, dan dapat berkontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik.
Sasaran pendidikan Budi Pekerti
• Sasaran Pengetahuan
o Mampu mengidentifikasi nilai-nilai yang berkontribusi dalam pengembangan budi pekerti mereka seperti jujur, perhatian, bertanggung jawab
o Memahami tradisi keluarga dan mengetahui nilai-nilai yang dapat meningkatkan kebersamaan dalam keluarga seperti: cinta, perhatian, bertanggung jawab pada setiap anggota keluarga, hormat pada setiap anggota keluarga dan menjunjung nama keluarga.
o Memahami prinsip-prinsip kerjasama dan mampu bekerja sama dengan baik di sekolah dan lingkungannya.
o Memahami beberapa hal yang penting dalam sebuah komunitas dan dapat berkontribuasi pada komunitas.
o Memahami perbedaan suku, agama dan ras.
o Perhatian pada nilai-nilai sebagai warga negara yang baik.
• Sasaran ketrampilan
o Menerapkan ketrampilan moral dan mampu berfikir kreatif, menyelesaikan masalah (memahami permasalahan, menyusun beberapa alternatif, memprediksikan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul, mengevaluasi pilihan-pilihan yang dibuat dan memilih tindakan yang sesuai.
o Memahami perasaan orang lain
o Perhatian pada orang lain.
o Menunjukkan ketrampilan hubungan antar individu yang baik termasuk memahami perbedaan ras dan perbedaan kemampuan.
o Mampu bekerjasama dalam kerja kelompok.
o Dapat membuat kesepakatan bersama ketika muncul perbedaan.
o Hormat kepada orang tua.
o Mampu menggunakan kemampuan dan ketrampilan bagi lingkungannya.
o Berpartisipasi pada aktifitas-aktifitas yang diberikan.
• Sasaran perilaku
o Yakin pada potensi dan kemampuan diri.
o Memiliki moral dan tanggungjawab pribadi.
o Tenang ketika berhadapan dengan satu masalah dan mau menerima tantangan.
o Menunjukkan perhatian, mau berbagi dan mau membantu orang lain.
o Hormat pada orang tua, guru dan orang yang lebih tua.
o Memahami dan mau menerima orang yang berbeda dengannya.
o Dapat mendukung orang lain dalam mencapai tugasnya.
o Hormat pada orang lain meskipun berbeda ras dan budaya.
o Bertanggungjawab sebagai warga yang baik.
o Mau melayani komunitas dan lingkungan sosialnya.
o Menunjukkan rasa memiliki Indonesia sebagai tanah airnya.

Implementasi
Untuk dapat mengimplementasikan character building, sekolah direkomendasikan untuk menjalankan 5 (Lima) “E” yaitu:
• Example (memberi contoh)
Setiap pihak di lingkungan sekolah harus menerapkan semua nilai dasar yang dibangun untuk dapat menjadi contoh bagi siswa/peserta didik.
• Explanation (menjelaskan)
Guru secara terus menerus menjelaskan dasar tindakan untuk dapat mendorong siswa/peserta didik memahami dan menerima prinsip-prinsip moral yang ditetapkan. Pemahaman terhadap nilai dasar suatu tindakan dapat mendorong anak untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang sudah ditanamkan pada setiap kondisi baru.
• Exhortation (mengingatkan)
Guru secara terus menerus mengingatkan siswa/peserta didik untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang ditetapkan agar dapat memperbaiki perilaku mereka.
• Environment (lingkungan)
Iklim sekolah, cara melaksanakan aktifitas dan hubungan antar individu di sekolah harus dapat mendukung pelaksanaan nilai moral dalam kelas.
• Experience (pengalaman)
Sekolah sebagai lingkungan yang terstruktur harus dapat digunakan siswa/peserta didik mempelajari apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Sebaiknya diciptakan kondisi yang dapat mendukung siswa/peserta didik untuk mempraktekkan perhatian pada orang lain, menerima tanggungjawab dan kesempatan dalam membuat keputusan.
Penilaian dan Evaluasi
Sebagai sarana pengembangan moral dan sosial siswa/peserta didik, sekolah perlu untuk menilai seberapa banyak dan seberapa baik siswa/peserta didik mempelajari program pendidikan yang diberikan. Untuk mengukur tingkat pembelajaran siswa, ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu:
• Checklist perilaku.
• Respon personal dan soal-soal pendidikan Budi pekerti.
• Kegiatan-kegiatan sederhana yang dapat merefleksikan pemahaman siswa/peserta didik pada prinsip-prinsip yang diajarkan melalui perilaku kooperatif dalam sebuah kelompok.

Ujian paling utama adalah bagaimana siswa/peserta didik menjalankan nilai-nilai yang dibangun baik dilingkungan sekolah, keluarga maupun lingkungan sosialnya:
• Integritas perilakunya
• Tanggungjawab pribadi
• Spirit kelompok
• Patriotisme

PEDOMAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI

SASARAN DAN PELAKSANA
A. Sasaran
Seluruh siswa SMP – SMA – SMK Wijaya Putra Surabaya
B. Pelaksana
Seluruh Pimpinan, Guru, Karyawan, Satpam dan Pesuruh (semua warga masyarakat kampus )

INSTRUMEN PELAKSANAAN
A. Pengamatan guru pada saat KBM (form A)
B. Pengamatan Perilaku Siswa di luar kelas (form B)
C. Temuan yang dibahas setiap Jum’at pagi (form C)

PROSEDUR PELAKSANAAN
A. Pelaksanaan pengamatan di dalam kelas (pada saat KBM)
Guru menerima blanko (form A) dari Tim Budi Pekerti yang digunakan untuk mencatat siswa yang melakukan pelanggaran setiap guru mengajar.
B. Pelaksanaan pengamatan di luar kelas
Semua warga masyarakat sekolah menerima blanko pengamatan (form B) yang digunakan untuk mencatat siswa yang melakukan pelanggaran dan dikumpulkan kamis pagi untuk direkap masuk form C oleh tim budi pekerti dan dikelompokkan pada masing-masing kelas yang akan disampaikan oleh wali kelas pada hari jum”at pagi.

MEKANISME PENGOLAHAN DATA
A. Data pengamatan di dalam kelas (saat KBM)
Hasil pengamatan Guru dikumpulkan kepada tim budi pekerti dalam satu bulan sekali dan direkap oleh wali kelas.
B. Data pengamatan di luar kelas
Hasil rekapitulasi tim budi pekerti yang sudah dibahas dengan siswa pada jum’at pagi dikumpulkan kembali ke tim budi pekerti dan direkap oleh wali kelas setelah satu semester.

PENGOLAHAN DATA DALAM RANGKA PELAPORAN SEMESTERAN
Data yang sudah terkumpul baik data pengamatan di dalam kelas maupun di luar kelas, direkap oleh tim budi pekerti dan wali kelas serta dibuat raport yang dilaporkan kepada orang tua / wali siswa.

REFERENSI
http://www.ed.gov/programs/charactered/mobilizing.pdf
web.extension.uiuc.edu/character/PDF/character-coalition.pdf
http://www.freedomforum.org/publications/first/findingcommonground/B13.CharacterEd.pdf
http://www.mdctrcharacter.org/2009%20Awards/Nomination%20forms/elevenprinciples.pdf

Advertisements

2 Responses to “Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah Wijaya Putra”


  1. 1 Tenri S. P. Dipoatmodjo
    July 16, 2009 at 7:26 am

    Salam.. papa Inong..
    Tulisan ttg budi pekerti ini bagus banget. Akhir2 ini saya sering diajak brdiskusi, baik oleh rekan sekerja, teman sosial, maupun sodara2 yg mngemukakan keprihatinan mereka akan “kelakuan” anak2 skrg yg ‘gak tau adat dan sopan santun’. Bnyk org2 skrng yg melakukan sesuatu tidak ‘pake hati’. Di dalam pmbicaraan trsebut pasti terselip keinginan mereka akan dimunculkannya kembali pelajaran Budi Pekerti di sekolah. Tp ada jg yg brargumentasi “Bukankan pejabat2 yg korupsi itu justru yg dulunya sempat mndapakn pelajaran Budi Pekerti?”.
    Mnrt papa Inong gimana..
    Ma kasiiiih..
    Btw, p.f. tuk blog.nya..
    -tenri a.k. niken-

  2. 2 indratboe
    July 16, 2009 at 7:56 am

    Bismillah untuk tetap berbuat, tentang hasil kita serahkan pada Allah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


Advertisements
July 2009
M T W T F S S
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Months


%d bloggers like this: